PERGI DEKET, BAYAR DIKIT

pergi deket bayar dikit
Angin segar berhembus bagi para pengguna kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. Karena PT. KCJ baru saja menetapkan tarif progresif bagi penggunanya dengan slogan “Pergi deket Bayar dikit”. Slogan tersebut bukan tanpa arti, slogan tersebut menggambarkan perhitungan tarif kereta sesuai dengan stasiun yang dilewati sang penumpang sejak mereka menaiki kereta. Jadi bagi penumpang yang hanya melewati sedikit stasiun akan berbeda tarifnya dengan mereka yang menaiki kereta dari ujung keujung (misalnya: bogor-jakarta kota). Apalagi bagi mereka yang berkantong “pas-pasan” seperti saya sebagai seorang mahasiswa. Saya tidak lagi harus membayar delapan ribu rupiah padahal saya hanya melewati lima-enam stasiun bila berangkat kuliah (tarifnya sama dengan teman saya yang melewati 10-11 stasiun).
Namun, diawal pemberlakuannya, justru terjadi keterlambatan parah jadwal kereta. Dikarenakan ada gangguan persinyalan di dua stasiun berbeda dan itu cukup membuat lumpuh perjalanan kereta api Bogor/Depok-Kota/Tanah Abang. Banyak penumpang kecewa akibat kejadian ini. Mereka menganggap harga tiket semakin murah, pelayanan semakin tidak berkualitas.
Tapi tahukan kalian, bahwa akibat pemberlakuan tarif progresif tersebut PT. KAI harus menanggung kerugian yang cukup banyak?
Pemberlakuan tarif progresif dan sistem tiket elektronik (e-ticketing) untuk kereta Commuter Line sejak 1 Juli 2013 lalu di 66 stasiun Jabodetabek ternyata membuat pendapatan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menurun 10-15 persen tiap hari.
Saat ini, tarif progresif untuk KRL Commuter hampir sama dengan KRL Ekonomi, yaitu hanya Rp 2.000 per 5 stasiun dan Rp 500 untuk 3 stasiun berikutnya. Harga itu disesuaikan dengan subsidi dari pemerintah melalui penerapan Public Service Obligation (PSO). Padahal tarif penjalanan KRL sebelumnya sebesar Rp 8.000.
Di tengah belantara Jakarta yang selalu diwarnai kemacetan lalu lintas, kereta menjadi moda transportasi massal yang sangat diandalkan banyak orang. Selain murah, kereta sangat efektif untuk menghindari kemacetan di ibukota, terutama dari arah kota-kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
Beralih menggunakan kereta komuter, kini seakan menjadi tren bagi sebagian warga di Jabodetabek. Ini setidaknya bisa tergambar di Stasiun Depok Baru, Jawa Barat.
Dalam sepekan terakhir, jumlah mobil dan sepeda motor yang parkir di area stasiun meningkat sekitar 20 persen. Ini akibat banyaknya warga yang memilih beralih menggunakan komuter. Untuk parkir di stasiun, mobil dikenakan tarif maksimal Rp 6 ribu per hari, dan sepeda motor Rp 3 ribu per hari.
Namun apakah perubahan baik ini akan bertahan lama apabila tidak disertai pelayanan yang maksimal dari pihak terkait?

Referensi:
Liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Juli 2013
S S R K J S M
« Jun   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: