POLEMIK WAJIB MILITER DI INDONESIA

Belum lama ini di Indonesia mencuat Polemik tentang Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan. Kalau RUU ini jadi diundangkan, maka efek yang paling bisa dirasakan oleh rakyat Indonesia adalah diberlakukannya wajib militer.
Jauh sebelum Indonesia menggodok rancangan undang-undang ini sejumlah negara sudah lebih dulu melaksanakan wajib militer. Singapura mewajibkan penduduknya yang sudah berusia 18 tahun ikut wajib militer sejak 1976.
Pada 1987, Komisi Hak Asasi Manusia PBB menyatakan dan mengakui hak semua orang untuk memiliki keberatan terhadap wajib militer sebagai latihan yang sah dari hak kebebasan berpikir, hati nurani dan agama.
Wajib militer juga telah dilarang oleh PBB dalam Resolusi ke-88 pada 1998 dengan istilah Conscientious Objectors (Protes Keras).
Beberapa negara sudah menerapkan resolusi tersebut dan mencabut wajib militer. Republik Ceko mencabut wajib militer sejak Desember 2004. Hongaria turut membekukan wajib militer pada November 2004. Kemudian Bosnia juga mencabut wajib militer pada Januari 2006. Dan Jerman mencabut wajib militer tahun 2011 kemarin.
Ironisnya, ketika sebagian negara berusaha untuk mencabut wajib militer yang telah direalisasikan bertahun-tahun, Indonesia justru menggodok rancangan undang-undang Komcad yang dikenal dengan Istilah “National Service”.
Tentu hal yang menarik untuk dikaji. Untuk apa dan diperuntukkan untuk siapa relawan wamil jika rancangan undang-undang tersebut nantinya disahkan dengan status keanggotaannya selama 5 tahun atau selama satu periode kontestasi masa politik (Pemilu)?
Apakah digunakan untuk melakukan kudeta jika pemerintahan tidak disukai oleh beberapa pihak ? Ataukah diperuntukkan untuk mengekang dan memata-matai aktifitas gerakan politik kemerdekaan dan pembebasan diri dari wilayah negara kesatuan? Atau barangkali negara Indonesia sendiri telah mengumumkan statusnya sebagai negara darurat?
Berbagai tanggapan pun muncul dari berbagai kalangan. Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta mengaku mendukung Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan (Komcad) yang tengah digodok DPR RI tersebut. Sementara protes keras juga dinyatakan oleh Cendekiawan Anies Baswedan. Anies menilai, wajib militer tak mungkin diberlakukan di negara sebesar Indonesia. Selain infrastrukturnya yang belum siap, Anies menilai Indonesia terlalu luas dan jumlah penduduknya terlalu besar untuk diwajibkan ikut pendidikan militer. Anies mengungkapkan, selama ini, negara yang menerapkan wajib militer adalah negara yang wilayahnya kecil dan jumlah penduduknya pun kecil seperti Korsel, Singapura, Swiss. Tetapi tidak untuk Indonesia.
Nurul Arifin, Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Golkar pun menyatakan masa bakti wajib militer dalam Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan selama lima tahun dinilai terlalu lama, melampaui negara-negara yang lebih dulu menerapkan wajib militer yakni hanya 2 tahun.
Walaupun semua ini adalah sebatas kebijakan pemerintah atau kebijakan negara dalam mempersiapkan diri menghadapi ancaman pertahanan keamanan negara, kita tidak ingin berasumsi yang tidak baik jika rancangan undang-undang mulai dibahas dan disahkan dalam prolegnas pemerintahan Indonesia saat ini.
Lalu apa dampak positif dan negatif diadakannya wamil di Indonesia?
Sisi Positif
1. Indonesia akan memiliki warga negara yang siap tempur. Siap tempur dalam 2 hal, yaitu tempur dalam artian mengangkat senjata dan tempur dalam artian menghadapi tantangan hidup. Dengan mendapatkan pelatihan dan pendidikan militer maka warga negara Indonesia paling tidak akan memahami ilmu-ilmu dasar dalam bertempur, berperang, berkonfrontasi dengan kekuatan militer pihak (negara, gerakan separatis, teroris, pembajak, dll) lain. Setidaknya seorang warga negara tahu caranya menembakan senjata api. Masalah tepat tidaknya mengenai sasaran itu masalah pengalaman dan kebiasaan. Keuntungan yang didapat adalah negara tidak lagi terlalu takut dan parno ketika harus menghadapi serangan-serangan militer dari pihak lawan. Pengambilan keputusan untuk bereaksi atas serangan bersenjata terhadap keamanan negara tidak lagi tersendat-sendat karena terlalu bimbang memperhitungkan kekuatan militer yang dimiliki oleh negara.
Selain siap tempur menghadapi kemungkinan serangan berbasis militer, warga negara juga akan terlatih dan terdidik menghadapi kerasnya hidup. Bahwa hidup tidak selamanya mudah. Bahwa hidup tidak selamanya di atas. Bahwa tidak boleh ada kata putus asa ketika hidup dipenuhi permasalahan. Ketika harus tidur beralaskan tanah atau di atas pohon, ketika selama 3 minggu hanya makan mie instan dicampur nasi yang sama sekali tidak matang, ketika harus minum air sungai bekas orang memandikan kerbaunya karena jatah air dibatasi, ketika keadaan tidak memungkinkan untuk mandi selama seminggu penuh, ketika hanya ada satu baju yang melekat di badan, ketika harus berjalan selama 24 jam penuh menempuh jarak berpuluh-puluh kilo dengan logistik yang terbatas, dan ketika-ketika lain. Semua perlakuan yang menekan manusia sampai batas kemanusiannya ini akan mengajarkan dan melatih seseorang untuk siap tempur ketika menghadapi masalah-masalah hidup dan menghargai segala hal sekecil apapun yang dimilikinya selama hidupnya.
2. Indonesia akan kembali menjadi Macan Asia. Dengan memiliki warga negara yang siap tempur maka kewibawaan Indonesia yang dulu sempat menjadi mercusuar bagi negara-negara Asia-Afrika akan kembali terangkat. Setidaknya mereka akan berpikir sekian kali ketika akan membuat masalah dengan Indonesia. Paling tidak Malaysia akan berpikir dua kali ketika akan mengklaim Reog Ponorogo, merebut Blok Ambalat, membuat plesetan lagu Indonesia Raya atau memindahkan patok-patok perbatasan di Borneo sana. Minimal mereka akan berkali-kali memperhitungkan resikonya apabila terjadi kemungkinan konfrontasi militer dengan Indonesia. Bukankah kita semua rindu penghormatan itu? Yang dulu telah susah payah dibangun oleh Presiden Soekarno sebagai negarawan dan Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai seorang militer tulen.
3. Mengurangi manusia Indonesia yang manja dan tidak tahan banting. Manusia Indonesia saat ini telah diperbudak oleh kemudahan, oleh hal-hal instan yang menjadikan mereka tidak tahan banting dan bersifat manja, terutama anak-anak mudanya. Saat bayi dimanja, saat SD diantar-jemput pakai mobil dan dibekali gadget-gadget canggih. SMP difasilitasi sepeda motor supaya tidak capek jalan ke sekolah. SMA dibelikan mobil supaya tidak kepanasan di jalan. Mahasiswa waktu diospek saja nangis, lapor Komnas HAM, padahal cuma digertak sekali itupun karena yang bersangkutan terlambat datang. Setelah wisuda sarjana diberikan pekerjaan secara cuma-cuma baik di perusahaan orang tuanya, keluarga, ataupun koleganya. Kalaupun mencari maunya yang instan, pakai “amplop” atau memanfaatkan jabatan orang dekat. Mau makan ke restoran fastfood atau delivery service, baju kotor dibawa ke binatu, tugas makalah cuma salin-tempel dari google, sampai-sampai mau kurus saja bukannya olahraga tapi pakai sedot lemak, pil pelangsing, teh galian singset, atau salep pembakar lemak.
Kemanjaan-kemanjaan ini sedikit demi sedikit akan berkurang kalau manusia Indonesia merasakan bagaimana kerasnya pendidikan militer. Lihat saja, mana ada tentara yang manja? Mana ada tentara yang menangis gara-gara kecapekan atau kepanasan? Itu karena selama bertahun-tahun mereka dilatih sedemikian rupa untuk menghilangkan sifat manja.
4. Mendidik dan mengembangkan pemuda-pemudi Indonesia yang memiliki sifat dan sikap disiplin, cinta dan bangga akan negaranya, peduli sesamanya (berjiwa korsa /tidak apatis), menghormati orang lain terutama yang lebih tua, bersahaja dan tidak hedonis, serta sifat dan sikap baik lain yang saat ini sangat perlu ditanamkan pada pemuda-pemudi Indonesia.
Sisi Negatif
1. Secara psikologis dan sosiologis bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka berperang, mencintai kekerasan dibalik keramahannya. Ini dibuktikan dengan pasti adanya tari perang di setiap suku di Indonesia dan beragamnya senjata-senjata tradisional di hampir semua kebudayaan lokal di Indonesia. Juga masih banyak ditemukannya peristiwa-peristiwa bentrokan di berbagai daerah dengan berbagai latar belakangnya. Bahkan siswa yang katanya sudah maha saja lebih senang baku hantam daripada diskusi keilmuan. Dengan kondisi seperti ini rasanya tidak mustahil bila nantinya latihan militer yang didapat justru digunakan sebagai ajang unjuk kekuatan. Merasa hebat karena pernah dididik militer lalu segala sesuatu diselesaikan dengan kekuatan fisik.
2. Pembengkakan anggaran untuk sektor pertahanan dan keamanan. Pendidikan dan latihan militer selama beberapa bulan saja menghabiskan biaya yang besar, apalagi jika dilaksanakan sepanjang 24 bulan seperti di Korea Selatan, pasti akan terjadi pembengkakan anggaran. Belum lagi celah korupsi yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaannya. Mark up pengadaan seragam, suap dari anak-anak manja yang tidak mau ikut wajib militer, dan celah-celah lain.
3. Kekhawatiran akan adanya angkatan kesekian setelah TNI AD, AL, dan AU. Dulu sekitar tahun ’60-an pernah muncul wacana dari PKI tentang pembentukan Angkatan Kelima (setelah AD, AL, AU, dan Polisi), yaitu mempersenjatai buruh dan petani. Wacana ini ditentang keras oleh pihak militer. Nah, dengan banyaknya partai politik, organisasi masyarakat, LSM, organisasi keagamaan, dan organisasi-organisasi lain di Indonesia sekarang ini, dikhawatirkan anggota organisasi yang telah mengecap wajib militer akan menggunakan kepandaiannya untuk membentuk sayap militer bagi masing-masing organisasinya. Bisa dibayangkan bila separuh saja organisasi di Indonesia memiliki sayap militer, tidak mustahil mereka akan menggunakannya untuk mendukung tindakan atau kebjakan organisasi. Yang ada Indonesia akan makin terpecah belah. Dan bila salah satu partai politik saja memiliki sayap militer macam Waffen SS dalam tubuh Nazi, maka ini juga akan sangat berbahaya.

Hingga kini, draf RUU Komponen Cadangan masih dibahas di Komisi I DPR. RUU ini diperkirakan masih akan lama disahkan karena harus menunggu pengesahan RUU Keamanan Nasional terlebih dahulu.
Terlepas dari sikap dan pandangan politik yang berbeda dari masing-masing kita sebagai seorang warga negara yang baik, tentu kita berharap bahwa fungsionalisasi lapangan komponen cadangan ini benar-benar dimanfaatkan untuk menjaga dan mempertahankan kepentingan dan keamanan nasional Indonesia.

Referensi:
http://atjehpost.com/saleum_read/2013/06/12/55426/77/3/Wajib-militer-di-Indonesia-untuk-apa-dan-buat-siapa
http://hankam.kompasiana.com/2013/06/05/positif-negatifnya-pemberlakuan-wajib-militer-di-indonesia-562372.html
http://nasional.kompas.com/read/2013/06/02/21592276/Anies.Wajid.Militer.Tak.Mungkin.di.Indonesia
http://nasional.kompas.com/read/2013/06/05/08143119/Wajib.Milter.di.Korea.dan.Singapura.Hanya.2.Tahun..Indonesia.Kok.5.Tahun.

1 Komentar (+add yours?)

  1. Anti-Primordialism
    Feb 27, 2014 @ 06:40:34

    saya termasuk yang menentang pengesahan wamil negeri ini, karena militerisme sangat sarat dengan kepentingan elit atau rezim yang sewaktu-waktu bisa dibangkitkan karenaego dan politik dg mengatasnamakan “Nasionalisme” untuk menabur genderang perang dengan negara lain, dan ini tentu mengurangi ruang demokrasi kerakyatan yang menjunjung HAM dalam menilai serta memandang segala persoalan, yang ada hanyalah tendensi yang bisa saja ketika sebuah negara menganggap salah yang hanya bersentriskan nilai-nilai nasional tanpa mengedepankan nilai-nilai humanitarian dan internasional.
    saya tidak akan pernah setuju dengan autoritarisme semacam ini, ini absurd! seolah negara kita ini negara konflik seperti Afghanistan apa?, wong selama ini kayaknya negara yang secara politik dan geografis biasa-biasa saja

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Juli 2013
S S R K J S M
« Jun   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: