MATA RANTAI INTELEKTUALISME ISLAM DI INDONESIA

Perkembangan dan dinamika sejarah perkembangan Islam di Nusantara (Asia Tenggara), terutama yang berkaitan dengan gagasan dan kontribusi para tokoh dan pemikir dimasa lalu, sesungguhnya merupakan sejarah panjang yang memiliki banyak warna dan kompleksitas. Perkembangan tersebut tidak bisa dipisahkan dari sejarah percaturan pemikiran dan aksi Islam di wilayah-wilayah lain diluar Nusantara sejak abad ke-16, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ketika itu, warna-warni gagasan dan pemikiran Islam diakui marak bermunculan dari para tokoh agama dan kaum intelektual.
Perkembangan kondusif yang terus berlangsung itu pada banyak hal telah berpengaruh besar bagi pertumbuhan dan dinamika pemikiran dan pemikiran Islam di wilayah-wilayah di luar Timur Tengah. Indonesia, atau ketika itu disebut Nusantara misalnya, mengalami dampak positif yang demikian kuat. Intelektualitas dan gerakan Islam tumbuh dengan begitu kondusif, terutama pada rentang abad ke-16, hingga masa-masa pergerakan modern abad ke-20. Namun demikian, bila dikaji lebih mendalam lagi, sejarah intelektual Islam di Nusantara sebenarnya juga sangat kompleks. Selain itu, dinamika intelektualitas Islam di Nusantara pun sangat dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan tertentu Islam di Nusantara –misalnya dalm kaitannya dengan kolonialisme—selain pengaruh Islam di Timur Tengah, seperti disinggung diatas.
Peneliti sejarah sosial dan intelektualisme Islam di Nusantara khususnya pada masa sebelum kolonialisme dan sesudahnya, melihat bahwa para ulama dan pemikir Islam telah menjadi produsen karya-karya intelektual yang kreatif. Periode sejak akhir abad ke-16 sampai akhir abad ke-19 bahkan memunculkan tonggak-tonggak intelektualitas yang cemerlang melalui berbagai karya monumental. Sayangnya, karya-karya ini belum dikaji secara menyeluruh dan cermat. Mengingat minimnya ketertarikankalangan intelektual dan sejarawan kita dalam bidang ini.
Khazanah intelektualitas mereka sesungguhnya juga amat mengagumkan. Setidaknya dengan menyebut beberapa nama saja, orang bisa melihat “puncak-puncak intelektualitas” Islam di Nusantara. Abad ke-17 misalnya, kita mengenal dua “gelombang” intelektualitas; gelombang Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dengan corak “wahdat al-wujud” yang kental. Berbagai kajian tentang kedua ulama ini dan pemikiran mereka sepakat menyimpulkan kebesaran mereka. Meski Hamzah Fansuri khususnya, sangat dipengaruhi oleh Ibnu ‘Arabi, tetapi seperti disimpulkan Brakel (1969), Winstedt (1923), Naquib Al-Attas (1970) dan Bukhari Lubis(1993), Hamzah adalah penyair sufi yang tidak tertandingi dalam originalitasnya.
Gelombang kedua intelektualitas Islam abad ke-17 diwakili tokoh-tokoh ulama pemikir, yang merupakan sufi dan ahli fiqh sekaligus, seperti Nurrudin al-Raniri, Abdurrauf Singkel, dan Muhammad Yusuf al-Maqassari. Al-Raniri selain menghasilkan banyak karya dalam bidang tasawuf, juga menulis karya monumental fiqh ibadah pertama dalam bahasa Melayu, al-Sirath al-Mustaqim.
Adapun abdurrauf menghasilkan fiqh mu’amalah pertama dalam bahasa Melayu. Mir’at al-Thullab; dan tafsir 30 juz pertama dalam bahasa Melayu. Karya-karya yang mewakili ortodoksi Islam ini beredar dalam waktu yang lama, sehingga memiliki pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektual-sosial Islam di Nusantara. Penting dikemukakan pula bahwa Abdurrauf juga menghasilkan karya-karya sufistik. Menurut Annemarie Schimmel—otoritas terkemuka dalam kajian sufisme—bahwa Abdurrauf telah berhasil menyajikan eksposisi dan eksplanasi sufisme secara brilian, jenius, dan otentik.
Gelombang intelektualitas Islam Nusantara ini berlanjut pada abad ke-18 dan ke-19, yang memunculkan sejumlah pemikir-ulama. Mereka menghasilkan karya-karya intelektual yang sangat bernilai tinggi, dan kebanyakan karya mereka masih memerlukan kajian serius dan mendalam.
Sekedar contoh untuk menyebut ketinggian intelektualitas ulama dan pemikir ini, kita dapat mengemukakan Abdusshamad al-Palimbani, misalnya. Menurut sumber-sumber Arab, al-Palimbani adalah penafsir yang paling otoritatif dan kreatif tentang tasauf al-Gazali di Arabia pada masanya. Sumber Arab juga menyatakan, para penuntut ilmu tasawuf di Haramayn belum sempurna ilmunya dalam bidang tasawuf jika belum belajar pada al-Palimbani. Mahfuzh al-Termasi (dari Termas, Jawa Timur), yang dikenal di Indonesia melalui karyanya dalam bidang hadis, yakni Manhaj Dzawin-Nazhar, lagi-lagi menurut sumber-sumber Timur Tengah, adalah ulama yang paling bertanggungjawab membangkitkan kembali ilmu dan tradisi dirayah hadis , kritisisme terhadap hadis, di Hijaz setelah lama cenderung didominasi hanya oleh tradisi “periwayatan” (riwayah hadis).
Berbagai karya para pemikir dan ulama diatas membuktikan, mereka bukan sekedar “konsumen” pemikiran Islam yang berkembang di Timur Tengah. Mereka telah menjadi “produsen”; bukan sekedar peng-copy, tetapi secara kreatif melakukan re-interpretasi, re-eksposisi, re-eksplanasi, dan kontekstualisasi sehingga menjadi lebih bermakna dan fungsional bagi lingkungan masyarakat Muslim Nusantara. Memang, masih banyak yang belum kita ketahui dan pahami tentang tradisi intelektualitas Islam di dunia Melayu. Karena itu, masih banyak pula kajian yang mesti dilakukan.

1 Komentar (+add yours?)

  1. roni
    Sep 14, 2013 @ 21:54:00

    cantik bloknya kayak orangnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: