Islam atawa Negara atawa Umat

Agama Islam merupaka kepercayaan yang open-minded, inklusif, bukan ideologi politik yang intoleran, juga bukan agama yang memaksa manusia untuk memeluknya. Dengan jelas, al-Quran menyebutkan: “Tidak ada paksaan dalam agama” )al-Baqarah:256). Disisi lain, Islam menampakkan diri sebagai gerakan yang menekankan pentingnya kehidupan sosial, lebih daripada kehidupan kolektif. Artinya, titik berat pada kehidupan pribadi yang bertanggungjawab dan bukan perorangan yang terikat semata pada tradisionalitas.
Walaupun ada pemisahan antar manusia pribadi dan manusia kolektif, namun dua hubungan ini tetap solider. Sebab, kehidupan kolektif adalah suatu aspek manusia, sebaliknya, masyarakat adalah penggandaan dari perorangan. Akibat dari interdependensi dan timbal balik itu, apa yang dilakukan untuk masyarakat memiliki nilai spiritual bagi individu. Dengan begitu, seorang mukmin yang melakukan kewajibannya terhadap sesama baik dalam rangka individual maupun kolektif, pada waktu yang sama berarti mengikuti hukum diwahyukan. Karenanya, kebajikan dalam Islam bersifat kolektif dan bukan interindividual.
Ajaran tentang nilai-nilai universal dan dakwah yang adiluhung dalam Islam tidak akan mengendurkan hubungan yang suci didalam tubuh umat Islam. Sebaliknya, ada dua ketentuan yang memerintahkan supaya umat Islam senantiasa memelihara kelektifias organik yang menonjol. Orang Islam berkewajiban untuk hidup sebagai umat yang bersatu dan tidak terpecah, berpegang pada cita-cita luhur dibawah petunjuk al-Quran dan sunnah Nabi. Doktrin tentang kesatuan eksistensial yang timbul dari keesaan Allah (tauhid) menempatkan tiap hal dalam tingkatannya dan perspektif susunan universal yang menyeluruh. Keseluruhan umat manusia merupakan bagian dari keharmonisan global. Bersatunya manusia dalam masyarakat adalah suatu keniscayaan. Watak manusia tidaklah mungkin hidup dalam soliter, terpisah dari kehidupan kolektif.
Kegelisahan inilah yang juga kegelisahan kita semua mestinya menyentak-nyentak Gamal al-Banna. Adik kandung Hassan al-Banna, peletak dasar gerakan Ikhwan al-Muslimin di Mesir ini, berupaya menyelisik terhadap fenomena sejarah munculnya negara Islam yang diawali dari Nabi Muhammad SAW, Khulafaurrasyidin, lahirnya bani Umayyah, Abasiah, hingga fundamentalisme dan radikalisme yang terjadi di berbagai negeri muslim kontemporer. Gamal al-Banna membenamkan diri untuk mengkaji Ikhwan al-Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Islamiyah, gerakan Islam di Iran, Turki, Aljazair, Tunisia, Mesir beserta pemikiran para jawara pemikiran dan gerakan Islam. Bahkan pula, ia terus berselancar meneliti gerakan non-keagamaan seperti Komunisme-Sosialisme di Uni Soviet dan gerakan buruh di negara-negara Erpa, khususnya Inggris.
Gamal al-Banna menjelajahinya melalui tatapan dan takaran yang setimbang, komprehensif dengan melacak akar sosiologis, historis dan agama serta berangkat dari data-data empiris. Dan akhirnya, simpulan yang dia reguk adalah bahwa “kekuasaan telah merusak ideologi dan agama”. Idealisme yang awalnya muncul dari ketidakpuasan dan keinginan untuk merubah tatanan sosial secara lebih baik, harus luluh lantak sebagai akibat perburuan terhadap kekuasaan. Melalui kekuasaan, gerakan-gerakan baik keagamaan maupun non-agama, berakhir dengan mengukuhkan kembali sikap dan tindakan despotis, otoriter dan eksploitatif yang justru melahirkan klas-klas sosial baru.
Gamal al-Banna meyakini bahwa negara Islam memang pernah tegak berdiri. Tetapi itu hanya terjadi pada zaman nabi Muhammad dan Khulafaurrasyidin. Setelah itu pemerintahan Islam dikendalikan oleh pribadi-pribadi yang despotis dan dipacu oleh syahwat kekuasaan semata. Karena itu, pembentukan pemerintahan Islam paska nabi dan Khulafaurrasyidin oleh gerakan-gerakan Islam kontemporer terasa utopia. Bahkan banyak yang berakhir dengan kegagalan. Ini yang membedakan Gamal al-Banna dengan pemikir Muslim lainnya. Gamal al-Banna masih menaruh harapan pada wujud “negara Islam”, tetapi sosok pemerintahan yang lebih membumikan Islam dalam membangun kemaslahatan umat. Kendati wujud ideal “negara Islam” rasa-rasanya mustahil untuk dijasadkan, namun yang terpenting adalah nilai-nilai Islam atau pendaratan kebajikan universal.
Gamal al-Banna tak perlu risih untuk menoleh pada pemerintahan di negeri-negeri Barat, semisal Inggris yang telah berhasil dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya dengan menciptakan “negara kemakmuran”, seperti jaminan pendidikan atau kesehatan secara Cuma-Cuma dan kebebasan ekspresi yang dilindungi undang-undang bagi warganya. Sementara, negeri-negeri muslim masih terbelit oleh konflik internal dan terpanggang oleh panasnya hawa korupsi atau penyimpangan terhadap keadilan lainnya. Dan Gamal al-Banna lagi-lagi memperlihatkan sikap keterbukaannya atau pluralisnya dalam menimba dan menguliti dibalik kekarnya fakta. Sikap ini tentu pula mempunyai rujukan yang jelas.
Kita tahu, didunia Islam dewasa ini, jumlah orang yang menyerukan sebuah pemerintahan Islam makin hari bukannya makin menyusut, malah makin meningkat. Mereka meyakini bahwa pemerintahan Islam akan menjadi satu-satunya obat bagi semua penyakit yang diderita bangsa-bangsa Islam. Pemerintahan Islam akan membersihkan masyarakat, mendorong kemajuan kultural, membeikan keadilan dan mengagungkan firman Allah. Dengan ungkapan lain, mereka meyakini Islam sebagai solusi. Sementara, yang lain meyakini bahwa pemerintahan Islam adalah pemerintahan agama yang dipertentangkan dengan pemerintahan sipil. Artinya, pemerintahan Islam akan mengkonsentrasikan kekuasaan ditangan para pemuka agama dan kolega-koleganya, baik ulama, politisi, atau pegawai negara. Pemerintahan agama tersebut menurut mereka hanya akan menjadi pemerintahan yang otoriter, berbasis pada agama yang sempit.
Kalau mengutip pendapat peneliti dari Perancis, yaitu Marcel A Boisard, masyarakat Islam tak pernah membentuk suatu teokrasi, baik dalam teori maupun praktik yang justru bertentangan dengan pendapat Barat mengenai pemerintahan Islam. Ini pula yang diyakini oleh Gamal al-Banna tentang eksistensi Islam sebagai umat atau masyarakat, dan bukannya negara. Istilah” umat” dalam Islam jelas berbeda dengan yang didefinisikan oleh Barat, kata-kata “umat” merujuk pada pengertian hubungan yang erat antara urusan spiritual dan profan. Dalam sejarahnya, nabi Muhammad SAW mendorong suku-suku di jazirah Arab menyembah kepada Allah yang Maha Esa. Dengan begitu, nabi Muhammad telah membentuk suatu kesatuan persaudaraan yang kukuh. Inilah esensi dan eksistensi agama yang sesungguhnya merupakan suatu kekuatan yang membentuk masyarakat menuju pada peradaban yang agung. Masyarakat yang diikat oleh tali kebersamaan, persaudaraan, dan keadilan.

Referensi:
Bagian buku,
Al-Banna, Gamal. 2006. Relasi Agama dan Negara.Jakarta: MataAir Publishing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: