PEREMPUAN MENYULAM BUMI

menanam pohon
Indonesia memiliki Raden Ajeng Kartini yang hidup berpuluh tahun yang lalu dan semasa hidupnya telah memiliki kesadaran bahwa perempuan Indonesia harus turut berperan dalam pembangunan bangsanya. Salah satu syaratnya adalah perempuan harus mendapatkan pendidikan yang setara dan kesempatan yang setara dengan kaum laki-laki. Setidaknya, pintu pada sebagian besar perempuan di Indonesia telah terbuka kesana. Maka, dunia pun tergelar dihadapan mata kaum perempuan Indonesia.
Disamping kemampuan berpikir yang semakin tajam karena diasah melalui pendidikan, perempuan pada dasarnya memiliki kodrat sebagai “ibu”. Ibu dalam arti luas. Kodrat ibu selalu membawa kehidupan . Bumi adalah Ibu bagi manusia. Ibu yang menjadi sumber kehidupan. Maka, manusia menyebut Bumi sebagai Ibu Pertiwi (Mother Earth).
Berdasarkan itu, maka diakui perempuan memiliki potensi untuk melakukan sebuah revolusi ekologis dalam menyelamatkan lingkungan. Secara teoritis kesadaran ini disampaikan oleh Francoise d’Eaubonne seorang feminis Prancis dalam bukunya Le Feminisme ou La Mourt.
“Perempuan Menyulam Bumi” mengandung dua makna, menyulam adalah kegiatan yang lazim dilakukan kaum perempuan khususnya dan masyarakat umumnya, untuk memperindah secarik kain, sebuah baju, atau sehelai taplak meja dengan sulaman warna-warni atau sewarna. Hasil sulaman memberi nilai tambah pada kain, baju, atau taplak tersebut. Perempuan menyulam bumi bisa dimaknai sebagai kiasan ketika perempuan memperindah atau memberi nilai tambah pada bumi.
Makna “menyulam” yang kedua adalah memperindah bumi dengan menanam dan memelihara tanaman. Jika tanaman mati, segera diganti atau disulam dengan tanaman lain, seringkali yang sejenis. Dalam banyak kegiatan penghijauan, seringkali pemeliharaannya tidak begitu diperhatikan. Tanaman yang mati tidak diganti, yang hidup pun seringkali dibiarkan terlantar.
Perempuan menyulam bumi bermakna perempuan memelihara pohon yang dia tanam dibumi. Bila ada pohon yang mati, harus disulam hingga diperoleh pepohonan yang terpelihara, kokoh menyegarkan, menenduhkan dan memperindah bumi. Pohon yang dipelihara dapat memberikan keuntungan ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup bagi yang menanamnya.

Referensi:
Kutipan dari,
Perempuan Menyulam Bumi. 2013. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: