MISTERI YANG HILANG

atlantisAtlantis! Kata yang singkat namun membangkitkan perasaan yang mendalam pada sesuatu yang menakjubkan, sebuah misteri, dan rasa kehilangan yang tak tergantikan. Dampaknya lebih terasa dibandingkan mendengar istilah “Benua yang Hilang”. Perasaan campur aduk ini sudah ada sejak masa Plato, filosof besar yang menulis tentang Atlantis sekitar dua setengah ribu tahun silam, ketika Yunani masih menjadi pusat peradaban dunia Barat.
Tetapi, apakah Atlantis hanya sekedar mitos? Sebuah dongeng moral? Kreasi Science Fiction? Atau, ia benar-benar pernah ada dalam sejarah, yang entah bagaimana diangkat lagi ke dunia nyata oleh pena ajaib Plato? Ada sesiatu dalam cerita Atlantis yang menggugah imajinasi kita dan serta merta memesona siapapun yang membaca karya agung Plato tentang kekaisaran tingkat dunia dari masa prasejarah yang hilang ini?
Mungkin, “sesuatu” ini adalah bahwa sikap bersikeras Plato didasarkan atas fakta bahwa dia berbicara yang sesungguhnya, yakni cerita tentang Atlantis itu adalah sebuah realitas yang memang pernah ada. Atau bisa saja, “sesuatu” itu adalah kekayaan emas dan permata yang dimiliki Atlantis, yang dilukiskan oleh Plato sebagai hal yang “tidak pernah dimiliki kaisar atau raja manapun dan tidak mungkin pernah ada lagi”. Mungkin, banyak petualang bermimpi, semua harta benda menakjubkan ini masih ada ditempatnya, menunggu seorang peneliti yang beruntung, yang cukup bijak untuk meyakini bahwa Eldorado bukanlah sekedar dongeng.
Selama dua puluh lima abad sejak masa Plato, ribuan buku tentang Atlantis masih jauh dari terselesaikan. Sebenarnya, misteri tentang letak Atlantis pun belum pernah terjawab dengan memuaskan meskipun ratusan tempat berbeda didunia diklaim sebagai lokasi, diantaranya seluruh wilayah Mediterania, Laut Utara, Pesisir Laut Atlantik di Eropa dan Afrika, kawasan di tengah samudera Atlantik, Amerika, dan sebagainya.
Sebenarnya, pakar-pakar dibidang ini belum bersepakat apakah Atlantis pernah ada atau tak lebih dari khayalan Plato belaka; dongeng moral yang dibuat Plato sebagai latar belakang etis bagi republik khayalan yang ideal, yang ia kemukakan dalam karya-karya lainnya, khususnya yang berjudul Republik.
Beberapa pakar lebih senang berada ditengah-tengah dan menyatakan bahwa cerita Plato tentang Benua yang Hilang itu hanyalah hal-hal biasa yang dilebih-lebihkan, yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mereka menyatakan bahwa Atlantis-nya Plato sama seperti peradaban Minoan di Kreta, Misenia-nya Yunani, Troy, atau Pulau Cyprus, atau peradabankecil Zaman Perunggu yang oleh sang guru digubah menjadi surga sungguhan.
Namun kenyataannya, jika kita hapus unsur-unsur luarbiasa dari kisah Plato, maka tak ada satu hal penting pun yang tersisa. Sedikit dari kita, kalau tak seorangpun, yang benar-benar tertarik pada kematian sebuah budaya kecil, yang lahir dan lenyap disuatu tempat, meninggalkan sedikit atau bahkan tak satupun jejak keberadaannya dulu, kini, budaya-budaya yang lenyap semacam itu mencapai ratusan jumlahnya.
Walaupun demikian, Atlantis jelas bukan sekedar budaya kecil. Menurut tuturan Plato, Atlantis adalah induk segala peradaban. Atlantis adalah kekaisaran benua yang sangat luas dan mendunia. Kekaisaran ini menguasai pelayaran dan perdagangan laut, menciptakan metalurgi dan perkakas batu, sangat ahli dalam segala jebis seni dan jasa, termasuk seni tari, drama, musik, dan olahraga.
Terlebih, penduduk Atlantis mengumpulkan harta kekayaan yang melimpah. Plat sendiri takjub dibuatnya. Dengan kata lain, secara harfiah Atlantis sama dengan Eldorado dan Golden Cipango; sama dengan Ofir-nya Raja Sulaiman, serta surga Havilah dan Tarshish, “tanah tempat emas dilahirkan”. Menyebut nama Eldorado saja sudah cukup mengingatkan kita pada para petualang, seperti Colombus, Pizarro, dan Cortez, yang dihinggapi “demam emas”.
Selain kaya, penduduk Atlantis juga mulia dan berbudi luhur. Mereka tidak mementingkan kekayaan. Mereka lebih mengutamakan kebijaksanaan dan kesalehan. Tetapi, lambat laun mereka terperangkap dalam kesombongan, ambisi, dan iri hati. Para dewa bersidang dan memutuskan untuk menghukum penduduk Atlantis agar dunia kembali ke jalan yang benar. Untuk itulah, mereka mengirimkan bencana banjir dan gempa buki, sehingga menghancurkan kekaisaran terkemuka itu sehancur-hancurnya. Peristiwa ini menjadi pelajaran koral menakutkan bagi siapa saja yang bertindak melampaui batas.
Terus terang, kisah Atlantis terdengar sangat mirip dengan lusinan kisah lain yang dituturkan dalam mitologi semua bangsa, terutama Yahudi-Kristen: kisah tentang Sodom dan Gommorah, Banjir Bah, dan jatuhnya Adam dan Hawa dari surga, jatuhnya Lucifer, dan sebagainya. Bangsa Celtic juga memiliki tradisi-tradisi yang sangat mirip tentang tempat yang tenggelam, terbukti dari puisi Taliesin atau legenda Ys, dan lain sebagainya.
Kisah yang hampir sama juga dituturkan oleh Homer, yaitu kisah tentang bangsa Phaeacia dan hukuman mengerikan ang menimpa mereka karena ketidaktaatan mereka kepada Poseidon, dewa pelindung dan pencipta mereka. Kisah ajaib Homer tentang Phaeacia sangat mengingatkan kita pasa Atlantis. Bangsa Inca di Amerika Selatan juga mempunyai kisah-kisah serupa tentang Aturumuna, raksasa-raksasa yang dijatuhkan, mereka dihukum dan dimusnahkan oleh para dewa dengan cara mengirim banjir.
Plato sendiri menyebut bencana alam yang dialami penduduk Atlantis sebagai Banjir Semesta. Dia juga menambahkan beberaka detail menarik. Dan tak diragukan lagi, detail-detail ini membawa kita pada kesimpulan bahwa bencana ini dipicu oleh aktivitas gunung-gunung berapi besar yang diikuti dengan penurunan tanah dan pembentukan kaldera, muntahan batu apung, tsunami dan gempa bumu hebat, dan sebagainya.
Terlebih, penanggalan yang diberikan Plato –11.600 Sebelum Masehi – bertepatan dengan penaggalan akhir Zaman ES Pleistosen dan juga Meltwater Pulse 1B. Kedua fenomena geologis ini merupakan bencana alam raksasa berskala global dan dampak bencana ini jauh lebih besar dan luas dibandingkan dengan yang menimpa Indonesia belum lama ini.
Karena peristiwa geologis global seperti ini—untungnya— jarang terjadi, maka kita bisa menerapkan prinsip “pisau cukur Ockham” dan mencoba menyatukan semua bencana yang terjadi menjadi sebuah peristiwa tunggal. Dengan kata lain, rupa-rupanya bencana yang dibicarakan oleh Plato sebenarnya sama dengan bencana yang juga dirujuk oleh semua tradisi suci di dunia. Sebenarnya, ada ratusan legenda mengenai banjir dan surga yang Hilang dalam semua budaya didunia, baik budaya primitif maupun dunia maju.
Fakta bahwa legenda-legenda semacam ini juga melimpah di Dunia Baru, hal itu menunjukkan bahwa legenda-legenda tersebut berasal dari zaman yang sangat kuno. Sebetulnya, menurut doktrin-doktrin standar terbaru, yang pada dasarnya diajarka disemua akademi di dunia, kontak antara Dunia Lama dan Dunia Baru terhenti segera setelah akhir Zaman Es, ketika permukaan air laut naik, menutup Jalan Lintas Bering, yang menurut kebijakan ilmiah merupakan satu-satunya mata rantai yang memungkinkan komunikasi antara dua dunia tersebut.
Karena legenda dari Dunia Lama tersebut ternyata sampai ke Dunia Baru, maka satu-satunya jalan yang memungkinkan terjadi difusi –menurut kebijakan akademis saat ini—adalah melalui Bering. Artinya kontak dilakukan selama Zaman Es atau segera sesudahnya, sebelum jalan lintas itu tertutup seluruhnya. Oleh karena itu, tak peduli ini legenda atau kenyataan yang sebenarnya, disimpulkan bahwa sebetulnya peristiwa tersebut berlangsung pada masa yang sama dengan masa terjadinya bencana besar pada akhir Zaman Es.
Ini berarti Plato tahu persis yang ia bicarakan dan ia memang tidak mengarang-ngarang cerita. Belum lama ini, kenyataan tentang bencana-bencana klimatis dan geologis berdampak global tersebut telah diakui oleh para pakar dibidang ini dan disiplin-disiplin terkait, seperti: arkeologi, antropologi, paleoantropologi, paleontologi, evolusi, klimatologi, dan sebagainya.

Referensi:
Santos, Arysio. 2009. Atlantis The Lost Continent Finally Found, Jakarta: Ufuk Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: