NASIB BURUK BURUH INDONESIA

Peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei, masih ditandai dengan terpuruknya nasib buruh di Indonesia. Di tengah situasi global tak menentu dan kepemimpinan nasional yang lemah, peningkatan kualitas nasib buruh di Indonesia semakin lambat.
Beberapa hari yang lalu rasa kemanusiaan kita serasa ditampar dengan terkuaknya perbudakan buruh di sebuah pabrik pembuatan alat dapur di Tanggerang. Para buruh tersebut dikurung disebuah rumah yang dijadikan pabrik, tidak diijinkan bersosialisasi dengan tetangga sekitar, barang-barang pribadi mereka disita dengan alasan keamanan, tidur disebuah ruangan pengap dengan 40 orang lainnya, upahnya dibayar dibawah standar yakni hanya 600rb perbulan, dan sering mendapat perlakuan kejam seperti disundut rokok bahkan disiram cairan alumunium. Terkuaknya kasus ini bermula dari kaburnya salah seorang buruh dan mengadukan kejadian yang ia alami ke Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Kemudian pihak KontraS dan pihak berwajib langsung memproses kasus ini sampai akhirnya sang tersangka pemilik pabrik ditangkap dan sedang menjalani proses hukum.
Presiden SBY mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertinggi dan terbaik di ASEAN. Namun ironisnya, justru upah buruh di Indonesia yang terendah dibanding negara tetangga di ASEAN. Upah buruh di negara tetangga seperti Thailand, memiliki upah minimum ekuivalen sebesar Rp 2,1 juta hingga Rp 2,8 juta. Sementara itu, negara serumpun Malaysia menggaji para buruhnya sebesar Rp 2,4 juta, bahkan Filipina mencapai Rp 3 juta. Sementara Indonesia, masih di bawah Rp 2 juta. Hanya Jakarta saja yang sudah di atas Rp 2 juta, itupun belum dilakukan semua perusahaan. Masalah upah buruh yang sangat minim ini, juga diperburuk dengan kegagalan pemerintah mengendalikan harga kebutuhan pokok. Misalnya, kenaikan harga daging beberapa waktu lalu, langsung menyusahkan kehidupan buruh. Belum lagi jika ada kenaikan BBM, maka harga makin terus meningkat, daya beli buruh berkurang.
Akibatnya, banyak warga negara kita yang lebih memilih bekerja diluar negeri baik secara legal maupun ilegal untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Ironisnya, niat baik para pekerja kita bekerja diluar negeri, tidak sebanding dengan perlakuan yang mereka terima dari “bos” mereka disana. Seringkali kita dengar nasib TKI atau TKW kita tidak digaji berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, diperkosa, bahkan dibunuh. Pemerintah yang seharusnya bisa melindungi warga negaranya, malah tidak pernah serius dalam menuntaskan permasalahan ini. Pemerintah diharapkan bisa meningkatkan infrastruktur bisnis dan iklim birokrasi yang efisien. Karena dengan begitu, dapat menciptakan kesejahteraan buruh.

Referensi:
http://www.merdeka.com/peristiwa/gerindra-upah-buruh-indonesia-paling-buruk-se-asean.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Mei 2013
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: