MEMBENAHI HUKUM EKONOMI DI INDONESIA

Hukum ekonomi adalah suatu hubungan sebab akibat atau pertalian peristiwa ekonomi yang saling berhubungan satu dengan yang lain dalam kehidupan ekonomi sehari-hari dalam masyarakat.
Disini kita akan membahas mengenai ekonomi pembangunan atau lebih spesifiknya mengenai penanaman modal (investasi) yang dilakukan oleh investor dalam maupun luar negeri.
Investasi merupakan salah satu komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi. Secara sederhana, investasi diartikan sebagai pengeluaran barang modal yang diarahkan untuk menunjang kegiatan produksi atau perluasan produksi. Ini menjadikan investasi mempunyai efek multiplier yang luas karena tidak hanya mendorong sisi produksi, namun juga menstimulasi sisi konsumsi.
Investasi dalam bentuk penciptaan nilai tambah ekonomi, akan mendorong pembukaan dan perluasan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan masyarakat, dan kemudian pada gilirannya akan menstimulasi konsumsi masyarakat dan kemudian memperdalam pasar domestik. Karena itulah komponen investasi seringkali dijadikan patokan dalam menilai kualitas pertumbuhan ekonomi.
Saat ini konsumsi domestik menyumbang 65% dari pemasukkan Produk Domestik Bruto, dan hal ini pulalah yang berhasil menjaga kestabilan perekonomian Indonesia dari dampak krisis finansial di Eropa dan Amerika beberapa waktu lalu. Namun hal ini perlahan-lahan harus dikurangi karena menurut Chatib Basri (Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal) kalau kita “makan” terus, maka pendapatan akan habis dibelanjakan dan suatu hari kita akan bangkrut. Logikanya sederhana tapi sangat masuk akal.
Pertumbuhan ekonomi kita tidak bisa terus-menerus ditopang oleh konsumsi domestik saja, tetapi juga harus ditunjang dengan penguatan investasi domestik. Mengapa? Karena meskipun Indonesia sudah mencapai investment grade dan arus investasi asing saat ini cukup besar, namun pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat dan ekspor juga akan menurun seiring dengan melemahnya permintaan dunia. Sementara jika alokasi pendapatan kita sebagian besar dibelanjakan untuk konsumsi maka permintaan tetap tinggi dan impor akan terus meningkat.
Jadi, bagaimana caranya agar kita dapat mengurangi tingkat konsumsi dan tidak menjadi korban ekonomi konsumsi ini?
• Pertama, jangan mengkonsumsi barang atau jasa bila kita belum mampu membelinya, apalagi bila kita tidak terlalu membutuhkannya.
• Kedua, alokasikan kelebihan pendapatan untuk investasi sehingga kita bisa menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah.
• Ketiga, jangan menjadi korban kemajuan teknologi. Manfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, jangan sebaliknya malah membiarkan kemajuan teknologi menggerogoti kantong kita.

Terdapat paling tidak 5 faktor yang ditengarai mempengaruhi pertumbuhan investasi di Indonesia dan mungkin juga dapat mempengaruhi investor untuk berinvestasi di Indonesia.
• Pertama, faktor suku bunga pinjaman. Tingkat suku bunga pinjaman yang rendah, kompetitif dan stabil akan menarik minat investor untuk melakukan eskpansi atau pembukaan usaha baru karena terjadi pengurangan beban bunga. Dalam hal ini, BI rate dijadikan sebagai suku bunga acuan bagi penetapan suku bunga simpanan dan pinjaman. Tingkat BI rate yang rendah akan berimbas pada rendahnya suku bunga kredit karena suku bunga simpanan sebagai basis sumber dana perbankan juga akan berada pada posisi yang lebih rendah. Terjaganya BI rate memberikan pengaruh pada trend penurunan suku bunga kredit investasi.
• Kedua, faktor tingkat pendapatan. Tingginya tingkat pendapatan per kapita mencerminkan tingginya kemampuan atau daya beli masyarakat. World Bank mencatat Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia tahun 2011 sebesar 2.940 USD, meningkat 17,6 persen dibanding 2010, dan bahkan selama periode 2007-2011 meningkat sebesar 83,75 persen. Pertumbuhan pendapatan masyarakat memberikan daya tarik yang cukup besar bagi para investor karena menunjukkan tingginya daya beli masyarakat.
• Ketiga, pertumbuhan dan ukuran kelas menengah. Salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap keputusan investasi adalah ukuran pasar domestik direpresentasikan oleh jumlah kelompok kelas menengah. Hasil perhitungan ADB dengan menggunakan data SUSENAS BPS, proporsi kelas menengah Indonesia dibanding total populasi meningkat dari 25% pada 1999 menjadi 43% pada 2009. Secara absolut, jumlah kelas menengah meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun, dari sekitar 45 juta pada 1999 menjadi 93 juta pada 2009 (ADB, 2010). Survey terbaru Bank Indonesia pada 2011 menunjukkan angka peningkatan yang cukup signifikan. Kelompok kelas menengah Indonesia pada tahun 2011 sebesar 60,9 persen dari total populasi, sedangkan kelompok berpendapatan rendah mencapai 22,1 persen, dan sisanya sekitar 17 persen tergolong kelompok berpendapatan tinggi. Kelompok kelas menengah yang terus tumbuh menjanjikan pasar yang cukup besar sehingga menarik minat para investor untuk melakukan ekspansi atau membuka usaha baru.
• Keempat, faktor tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Inflasi yang tinggi dan fluktuatif mengambarkan ketidakstabilan dan kegagalan pengendalian kebijakan makro ekonomi. Tingkat inflasi yang tinggi dan fluktuatif membuat investor dihadapkan pada situasi ketidakpastian usaha yang memicu peningkatan resiko proyek dalam investasi. Sampai dengan September 2012, inflasi Indonesia sebesar 3,66 persen (y.o.y), nilai ini jauh di bawah asumsi makro APBN 2012 sebesar 6,8 persen. Keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan tingkat inflasi meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia sepanjang tahun 2012.
• Kelima, faktor regulasi pemerintah. Iklim investasi yang kondusif memerlukan peran serta pemerintah, tidak hanya melalui pengendalian indikator ekonomi makro namun juga melalui peraturan perundangan berupa insentif fiscal dan non fiskal. Salah satu peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah untuk menarik investasi adalah PP 52 Tahun 2011 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal Bidang Usaha Tertentu Dan/Atau Daerah Tertentu. Melalui peraturan ini, Pemerintah memberikan insentif fiskal berupa fasilitas pajak penghasilan badan yang meliputi: (1) Tambahan pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah Penanaman Modal; (2) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat; (3) Pengurangan tarif Pajak Penghasilan atas penghasilan dividen yang dibayarkan kepada subjek pajak luar negeri; (4) Perpanjangan masa kompensasi kerugian.

Dalam kerangka MP3EI, komponen investasi memainkan peran yang sangat strategis karena menjadi kunci utama dalam mendorong pembangunan bidang infrastruktur konektivitas dan kegiatan ekonomi di pusat-pusat pertumbuhan. Pemerintah mendorong investor untuk melakukan penanaman modal pada koridor-kodidor ekonomi dalam MP3EI melalui berbagai kebijakan pro investasi berupa insentif fiskal, perbaikan layanan perijinan investasi, stabilitas makro ekonomi, dan kepastian serta perlindungan hukum.

Referensi:

http://madewahyudisubrata.blogspot.com/2012/04/pengertian-hukum-dan-hukum-ekonomi.html
http://www.setkab.go.id/artikel-6596-.html
http://mywealth.co.id/topic/investasi-2/%E2%80%9Ckurangi-konsumsi-naikkan-porsi-investasi%E2%80%9D/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Maret 2013
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: