MEMETIK HIKMAH

Ini adalah pengalaman pribadi saya. Kisah ini bermula dari diundangnya saya saat liburan semester dua untuk menghadiri acara pengenalan program SARMAG (Sarjana Magister) yang memang diadakan oleh kampus saya. Program ini semacam program percepatan, dimana normalnya satu tahun terdapat dua semester, sedangkan kalau saya mengikuti program tersebut, saya bisa menjalani tiga semester dalam satu tahun. Jadi 3 tahun kedepan apabila teman-teman saya lulus dengan gelar S1, saya bisa mendapatkan 2 gelar sekaligus yakni S1 dan S2 dan berpeluang belajar ke luar negeri pula. Tidak semua mahasiswa angkatan saya terpilih untuk menghadiri acara tersebut.
Dalam acara tersebut dijelaskanlah seluk beluk tentang program tersebut sampai biaya yang harus orangtua saya keluarkan. Dan ternyata untuk masuk ke program tersebut ada serangkaian tes yang harus saya dan teman-teman lain yang diundang dalam acara tersebut jalani. Setelah saya selesai menghadiri acara tersebut, saya berpikir untuk tidak memberitahu orangtua saya dulu mengenai program ini sampai saya dinyatakan lulus, karena saya takut mengecewakan orangtua saya apabila ternyata di kemudian hari saya tidak lulus program tersebut. Namun ternyata saya tidak kuat menahan diri untuk tidak memberitahu orangtua saya mengenai hal ini. Akhirnya setelah saya selesai mengikuti tes terakhir program tersebut, saya menceritakan tentang program tersebut kepada orangtua saya dan orangtua saya hanya mendoakan yang terbaik untuk saya malah berharap kalau bisa saya lulus masuk program tersebut. Sebenarnya saya tidak terlalu menginginkan masuk program tersebut, tetapi kalau ternyata saya lolos dan orangtua saya mendukung secara moral dan materiil, apa boleh buat. Saya akan mengambil program tersebut dan pasti berjuang keras untu bertahan didalamnya.
Sampai saya masuk perkulian kembali di semester tiga, pengumuman itu tak kunjung datang, sampai pada akhirnya saat selesai kelas salah satu matakuliah teman saya mendapatkan telepon dari pihak kampus yang menyatakan kalau dia lolos program SARMAG dan diharuskan datang dijadwal yang sudah ditentukan untuk pemberitahuan lebih lanjut. Pihak kampus memang mengumumkan lewat nomor telepon masing-masing peserta. Apabila tidak mendapat telepon dari pihak kampus, itu berarti tidak lolos. Sejak mengetahui teman saya sudah mendapat telepon dan saya belum, saya sempat berpikir kalau saya tidak lolos. Tetapi ternyata beberapa jam sebelum teman saya datang menemui pihak kampus untuk pemberitahuan lebih lanjut, saya mendapat telepon dari pihak kampus yang menyatakan saya lolos dan diharuskan datang juga seperti teman saya. Setelah saya selesai menerima telepon tersebut, saya hanya bisa terbengong-bengong tidak percaya kalau saya bisa lolos. Akhirnya saya memberitahukan kedua orangtua saya lewat pesan singkat mengenai hal ini.
Lalu saya dan teman-teman saya yang juga lolos program tersebut menghadiri tahapan selanjutnya yang tenyata diberikan surat pernyataan yang harus saya tandatangani diatas materai. Ini adalah tahap terakhir untuk benar-benar mengikuti program tersebut. Kami diberikan pilihan untuk langsung tandatangan ditempat atau boleh dibawa pulang untuk mendidkusikannya lebih dalam dengan orangtua dan keluarga. Saya memilih untuk membawa pulang surat pernyataan tersebut karena saya hanya memberitahu orangtua saya lewat pesan singkat saat saya dinyatakan lolos dan ingin mendiskusikan segala “tetek-bengek” nya terlebih dahulu.
Saat saya pulang kerumah dengan perasaan yang campur aduk, betapa terkejut saya. Saya melihat sedikit ketidak-mendukungan orangtua saya terhadap kelolosan saya mengikuti program tersebut yang tersirat dari ucapan mereka. Sebenarnya tanggapan mereka ini diluar ekspektasi saya yang menyangka kalau orangtua saya akan mendukung seratus persen. Apalah daya, akhirnya orangtua saya menyerahkan seluruhnya keputusan ditangan saya apakah saya akan mengambil program tersebut atau menolaknya. Saya berpikir matang-matang karena ini akan mempengaruhi masa depan saya. Dari awal saya sudah tidak terlalu berambisi untuk mengikuti program ini, ditambah lagi ternyata orangtua saya tidak mendukung sepenuhnya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengikuti program ini lebih jauh dan meneruskan perkuliahan saya secara normal. Banyak dari teman-teman saya yang menyayangkan keputusan saya ini, tetapi saya sudah berkeputusan dan harus yakin dengan apa yang sudah saya mabil. Mungkin apabila orangtua saya mendukung sepenuhnya saat itu, akan berbeda ceritanya. Apa boleh buat, saya tidak menyalahkan siapapun atas keputusan tersebut dan saya ikhlas dengan semua yang sudah terjadi. Saya yakin Allah akan memberikan yang lebih baik dari itu.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, saya diberitahu oleh teman saya kalau saya mendapatkan beasiswa berprestasi dari kampus dan beberapa teman saya juga mendapatkannya. Saya sangat bersyukur atas itu dan meyakini kalau beasiswa ini adalah hikmah dari ke-ikhlas-an saya beberapa bulan lalu.
Kesimpulan dari cerita diatas adalah apabila teman-teman mengalami peristiwa seperti diatas atau mendapatkan sebuah hasil tidak seperti apa yang diharapkan, yakinlah bahwa pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian dan Allah masih mempunyai rencana yang lebih indah untuk kita dimasa datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

Januari 2013
S S R K J S M
« Nov   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

%d blogger menyukai ini: